Lo
Kheng Hong lahir di Jakarta, 20 Februari 1959. Dia terlahir sebagai anak sulung
dari 3 bersaudara di keluarga yang sederhana. Ayahnya berasal dari Pontianak
yang merantau ke Jakarta. Pada masa-masa awal kehidupannya, ternyata Lo Kheng
Hong tidaklah seberuntung kebanyakan orang. Keluarga tempat Lo Kheng Hong
dibesarkan boleh terbilang pas-pasan atau bahkan kurang secara Ekonomi.
Rumah
yang ditinggalinya dulu hanya berukuran 4×10 meter, tanpa plafon dan hanya ada
atap dan temboknya dibuat dari papan. Rumahnya pun terletak setengah meter di
bawah jalan raya dan selalu terkena banjir karena tidak mampu untuk renovasi
rumah dan juga keterbatasan keuangan.
Foto: Loo Kheng Hong
Pada
tahun 1979, setelah lulus dari SMA, dia pun tidak bisa melanjutkan ke
universitas, kecuali bila bekerja untuk membiayai kuliahnya sendiri. Dikarenakan
hal tersebut, Lo Kheng Hong mencoba melamar kerja di Bank, dan akhirnya
diterima sebagai pegawai tata usaha di PT Overseas Express Bank (OEB).
Di
tempat kerjanya sebagai pegawai tata usaha, Lo Kheng Hong sering mem-fotokopi
surat-surat seperti BPKB, surat rumah, jaminan kredit, faktur, kwitansi dan
surat-surat lainnya setiap harinya, sehingga akhirnya dia memahami sistem
keuangan di bank. Dia pun setelah mendapat gaji, seringkali dihemat dan
ditabung ke Deposito. Sayangnya setelah dia bekerja di Bank yang tidak
melakukan ekspansi, sehingga setelah 11 tahun bekerja, pangkatnya masih utuh
sebagai pegawai tata usaha dengan gaji apa adanya.
Sebagai
pegawai tata usaha, tentunya Lo Kheng Hong tidak memiliki gaji yang besar,
namun dengan gaji seadanya pun, dia mampu hidup berhemat hingga dapat memulai
kuliah malam sambil tetap bekerja, hingga mampu untuk membiayai kuliahnya
sendiri sampai lulus. Lo Kheng Hong masih ingat betul saat kuliah, uang pangkal
masuk universitas saat itu hanya Rp50 ribu, dan uang kuliahnya per bulan hanya
Rp10 ribu.
Mulai Mengenal Saham
Pada
tahun 1989, Lo Kheng Hong mulai berkenalan dengan dunia investasi saham dan
pasar modal. Dia memulai membeli saham pada usia 30 tahun. Jika dibandingkan
Warren Buffett, Lo Kheng Hong bisa dibilang kalah umur, karena Warren Buffett
memulai saham sejak umur 11 tahun. Modal investasinya pun terbatas dikarenakan
saat itu masih bekerja sebagai pegawai tata usaha di bank, dan gajinya kecil.
Bagi
Lo Kheng Hong, hal tersebut tidak menjadi masalah karena sejak awal niatnya
bukan untuk menjadi persis seperti Warren Buffet. Lo Kheng Hong pun sangat
disiplin dengan uangnya sehingga dapat hidup berhemat dan masih memiliki sisa
gaji untuk dibelikan saham. Ini merupakan hal yang baru baginya karena dia sudah
bekerja puluhan tahun tetapi dia tidak pernah naik gaji lantaran perusahaan
tidak melakukan ekspansi signifikan.
Kelebihan
Lo kheng Hong adalah dia mau hidup berhemat untuk berinvestasi. Uang dipunyai
sedikit dia langsung belikan saham. Kalau orang lain memiliki uang untuk
membeli barang konsumsi dahulu, maka dia tabungkan lebih dulu, hanya saja
bentuknya saham.
Pada
waktu itu sebelumnya, dia tergiur membeli saham IPO karena Capital Gain saham
IPO yang besar, dia contohkan waktu itu ada saham IPO yang dijual di harga
Rp7.250, tidak lama kemudian naik sampai Rp35.000. Saham pertama yang dia beli
pun adalah saham PT Gajah Surya Multi Finance saat IPO (Initial Public Offering
atau Penawaran Umum Perdana). Lo Kheng Hong rela mengantri panjang untuk
mendapatkan saham ini. Namun setelah listing bukannya naik, harga sahamnya
malah turun dan Lo Kheng Hong terpaksa menjual rugi.
Hal
itu ternyata tidak menyurutkan minat Lo Kheng Hong untuk tetap berinvestasi di
saham. Dia tidak kapok dan justru tergerak untuk lebih rajin mempelajari
investasi saham secara otodidak, dan banyak membaca buku-buku tentang prinsip
dan strategi investasi Warren Buffet. Hingga kini, Lo Kheng Hong telah
mengoleksi buku Warren Buffet hingga 40 buku atau lebih, yang mana bukunya
sudah dibaca sampai 4- 5 kali.
Pindah Kerja Sambil Tetap
Berinvestasi Saham
Pada
tahun 1990, banyak Bank baru yang buka dan melakukan ekspansi. Lo Kheng Hong
pun memutuskan pindah kerja. Dia diterima sebagai staf bagian pemasaran di Bank
Ekonomi. Pada tahun ini pun Lo Kheng Hong mendapatkan kenaikan gaji yang
signifikan, dari Rp300.000 per bulan menjadi Rp900.000 (naik 200%). Lo Kheng
Hong aktif menggaet nasabah-nasabah lamanya ke Bank baru tersebut, dan setelah
setahun bekerja, dia diangkat menjadi kepala cabang dengan kenaikan gaji yang
lumayan.
Lo
Kheng Hong tidak menjadi boros dengan kenaikan gaji yang diterimanya, dan
hidupnya pun tetap hemat. Gaji yang diterimanya tetap disisihkan untuk membeli
saham, hingga akhirnya pada tahun 1996, tepat 17 tahun dia bekerja, dia
memutuskan untuk berhenti agar bisa fokus menjadi investor saham. Dia berani
melakukan hal ini karena mendapatkan keuntungan lumayan dari hasil berinvestasi
saham, dan dia sudah memiliki cukup pengalaman selama 7 tahun di bursa saham.
Hidup Berhemat dalam
Perencanaan Keuangan Ala Lo Kheng Hong
Dalam
menjalani kesehariannya, sejak dahulu Lo Kheng Hong hidup sangat hemat sehingga
masih memiliki dana untuk membeli saham. Dia hanya naik mobil butut Mitsubishi
Minicab 700cc, yang harganya murah meriah. Prinsip yang dianutnya dalam memilih
mobil yaitu: ”Beli mobil cukup yang seharga sepeda motor, yang penting jalannya
maju”.
Jika
tergoda membeli mobil bagus, maka seorang investor tidak akan punya cukup dana
untuk berinvestasi saham. Lo Kheng Hong pun mengakui bagaimana tidak nikmatnya
ia naik mobil yang dibelinya, Namun meskipun hidup kurang nikmat, Lo Kheng Hong
sadar bahwa dia sedang menunda kenikmatan demi menggapai sesuatu yang besar
pada masa depan.
Dengan
berlatih untuk menunda kenikmatan. Lama-kelamaan hal tersebut menjadi kebiasaan
atau gaya hidup. Hal yang dapat dipelajari disini adalah, salah satu langkah
penting untuk meraih kesuksesan keuangan adalah dengan belajar menikmati
menunda kenikmatan.
Contoh Kisah Kesuksesaan Lo
Kheng Hong
Lo Kheng Hong
dikenal hampir mengalokasikan seluruh asetnya di pasar modal, dan hanya
menyisakan sebesar 15% saja sebagai dana darurat. Di antara banyak kisah sukses
berinvestasinya ada 2 saham yang tercatat memberinya keuntungan dalam jumlah
yang fantastis, yaitu UNTR dan MBAI.
UNTR: Peluang Emas dari Krisis Finansial
Pada
tahun 1998 terjadi krisis Finansial. Saat itu, nilai rupiah terjun bebas dari
Rp2.300 per dolar AS (Oktober 1997) menjadi Rp15.000 per dolar AS (1998),
menyulut inflasi hingga 78% dan banyak pengusaha yang terpuruk. Begitu pula
dengan IHSG yang juga jatuh dari 740 (8 Juli 1997) menjadi 274 (29 Juli 1998),
membuat investor saham kehilangan sekitar 63% dari nilai sahamnya.
Lo
Kheng Hong pun pernah dikabarkan rugi besar dalam krisis finansial ini hingga
asetnya tinggal sebesar 15% saja (rugi 85%). Pada waktu itu pun dia baru
memutuskan berhenti bekerja dan fokus pada investasi saham di tahun 1996,
sehingga boleh dikatakan dia tidak memiliki penghasilan apapun. Namun dia tetap
membeli saham meski telah mengalami kerugian besar, karena di sinilah krisis
finansial menawarkan peluang baginya untuk bangkit.
Saat
itu banyak perusahaan terbuka yang harganya jatuh secara drastis. Sebagian
besar saham harganya sudah tinggal puluhan rupiah. Namun berkebalikan dengan
mayoritas investor yang panik, Lo Kheng Hong justru mencari saham bagus. Di
antara saham-saham yang dibuang itu pun, terdapat saham bagus PT United Tractor
Tbk (UNTR). UNTR adalah distributor utama alat-alat berat merek Komatsu di
Indonesia.
Lo
Kheng Hong membeli saham UNTR pada 1998 dengan seluruh modalnya, saat harganya
Rp250 per saham sebanyak 6 juta lembar saham, yang berarti Modalnya saat itu
sebesar Rp1,5 miliar seluruhnya diletakkan di saham UNTR saja. Dia menjualnya
sekitar enam hingga delapan tahun kemudian pada harga rata-rata sebesar
Rp15.000, dan menikmati keuntungan 5.900%. Dia memperoleh sebesar Rp90 miliar
dari penjualan saham tersebut.
Bagaimana
Lo Kheng Hong menemukan UNTR? Apakah karena sekadar faktor keberuntungan, atau
hasil dari sebuah analisis fundamental yang cerdas? Lo Kheng Hong pun juga menjelaskan
alasannya membeli UNTR.
Total
aset UNTR pada akhir 1998 adalah Rp3,8 triliun dengan jumlah saham beredar
sebanyak 138 juta. Pada harga pasar Rp250 per saham, total kapitalisasi pasar
UNTR hanya sebesar Rp34,5 miliar saja. Padahal selama 1998, pendapatan UNTR
mencapai Rp3,6 triliun, dan laba usahanya adalah Rp1 triliun. Namun, akibat
naiknya USD, UNTR menderita kerugian kurs Rp1,7 triliun. Ditambah beban bunga
Rp0,4 triliun, maka UNTR menderita kerugian sebelum pajak Rp1,1 triliun.
Bagi
Lo Kheng Hong, UNTR adalah perusahaan bagus karena secara operasional
perusahaan ini masih membukukan laba yang sangat besar. Kalaupun ada kerugian,
ini akibat kenaikan drastis nilai USD yang terjadi tidak setiap tahun. Jika
kondisi ekonomi pulih, pasti harga saham UNTR akan meroket.
MBAI: Keuntungan Super dari Bisnis yang Sederhana
Mungkin
bagi sebagian orang masih berpikir bahwa keuntungan Lo Kheng Hong pada saham
UNTR hanyalah keberuntungan belaka, namun apakah benar demikian? Nyatanya, dia
berhasil mengulangi kesuksesannya di saham lain. Hal ini terjadi ketika dia
membeli Saham PT Multibreeder Adirama Indonesia Tbk (MBAI).
Pada
kesempatan kali ini, Lo Kheng Hong membeli saham MBAI pada tahun 2005 saat
harganya Rp250 per saham sebanyak 6,2 juta lembar saham, yaitu sekitar 8,28%
dari total kepemilikan, yang berarti modalnya saat itu sebesar Rp1,55 miliar.
Dia menjualnya sekitar tahun 2011 pada harga rata-rata sebesar Rp31.500, dan
menikmati keuntungan 12.500%. Dia memperoleh sebesar Rp195,8 miliar dari
penjualan saham tersebut.
PT
Multibreeder Adirama Indonesia Tbk, merupakan perusahaan ternak ayam terbesar
kedua di Indonesia (sekarang sudah merger dengan Japfa Comfeed). Jumlah saham
MBAI yang beredar di 2006 mencapai 75 juta lembar. Jadi, nilai perusahaannya
adalah Rp250 dikali 75 juta lembar, yaitu Rp18,75 miliar. Padahal laba yang
dihasilkan MBAI sebesar Rp106 miliar.
Lo
Kheng Hong berkata bahwa bisnis pakan ternak yang dipunyai MBAI ini sederhana
dan tidak rumit. Namun justru kesederhanaan bisnis ini yang akhirnya bisa
mengantarkan perusahaan yang bergerak dalam subsektor pakan ternak bisa meraup
pertumbuhan laba tiap tahunnya.
Tidak
banyak investor yang mengetahui hal ini, sehingga tidak banyak yang beli,
akibatnya harga MBAI terlalu murah. Perlahan tapi pasti, pasar pun mulai sadar
akan nilai sebenarnya saham ini dan mulai mengereknya naik. Hasilnya, setelah
Lo Kheng Hong menyimpannya selama 6 tahun, harganya naik menjadi Rp31.500 dan
dia menjualnya di tahun 2011 serta memperoleh keuntungan sebesar 12.500%.
Kuncinya,
dia memiliki kompetensi untuk menganalisis fundamental perusahaan serta berani
mengambil risiko dengan membeli saham UNTR saat investor lain panik menjual
saham mereka. Saat membeli saham MBAI pun, karena likuiditasnya yang minimum,
banyak investor yang menghindarinya, namun dia berani membelinya.
Investor yang Bebas
Finansial
Setelah
sukses berinvestasi saham, Lo Kheng Hong menikmati hidupnya setiap hari. Dia
duduk di taman rumahnya dan melakukan 3 hal, yaitu RTI: Reading, Thinking, dan Investing. Dia membaca 4 koran yang datang
ke rumah setiap hari, laporan keuangan perusahaan dan data statistik pasar
modal. Dia menggunakan sedikit uang dari investasi di Bursa Efek Indonesia
untuk berkeliling dunia di 5 benua. Setidaknya 2 kali dalam setahun dia
bepergian ke luar negeri.
Dalam
menggambarkan hidupnya sekarang, Lo Kheng Hong menyebut dirinya sebagai orang
yang bebas. Ada 5 hal yang tidak dipunyainya, namun dia tidak perlu iri
karenanya. 5 hal tersebut adalah:
- Kantor, dia sudah tidak perlu datang ke kantor untuk bekerja dan mendapatkan uang.
- Pelanggan, dia sudah tidak perlu mencari pelanggan untuk mendapat komisi atas apapun.
- Karyawan, dia tidak perlu mencari karyawan karena bahkan tidak punya kantor. Lo Kheng Hong mengatakan bahwa dia hanya mempunyai seorang supir dan dua pembantu rumah tangga.
- Bos (Atasan). Karena tidak bekerja, dia juga tidak punya Bos.
- Utang. Seluruh aset yang dia masukkan pada portofolionya sama sekali bebas dari utang.
Lo merupakan
seorang investor value Indonesia jenis indivindu. Lo Kheng Hong disebut-sebut
sebagai investor saham yang sukses sehingga disebut Warren Buffet-nya
Indonesia. Lo Kheng Hong adalah orang yang sukses mencapai kebebasan keuangan
(Financial Freedom) hanya dengan berinvestasi saham. Sama halnya seperti Warren
Buffet, Lo Kheng Hong lebih memilih menjadi investor jangka panjang
dibandingkan menjadi investor jangka pendek atau trader.
Lo Kheng Hong
adalah seorang value investor yang bisa dikatakan sukses. Bahkan di usianya
yang sudah menginjak 59 tahun, dia masih aktif dalam berinvestasi saham dan tak
terpikir sedikitpun olehnya untuk berhenti. Bahkan hingga pada tahun 2012 pun,
ia diketahui memiliki aset berupa saham bernilai Rp2,5 triliun. Kisah
keberhasilannya sebagai investor saham itu tentu bisa menjadi pembelajaran bagi
orang lain yang ingin berinvestasi di saham.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar